Tuesday, September 18, 2012

Mengasah Potensi Anak Dengan Dongeng

MENGASAH POTENSI ANAK DENGAN DONGENG
Apakah itu Dongeng?

Mendongeng
Dalam Ensiklopedia Indonesia edisi khusus (1986: 161) dijelaskan bahwa pengertian dongeng adalah cerita singkat tentang hal-hal yang aneh atau tidak masuk akal, berbagai keajaiban atau kesaktian; biasanya mengisahkan dewa, raja, pangeran dan putri.

Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) edisi ketiga (2003: 274), dinyatakan bahwa dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi, terutama tentang kejadian jaman dahulu yang aneh-aneh. Sedangkan menurut Santosa (1995: 85) dongeng adalah cerita rekaan yang bersifat khayal dan didalamnya fantasi berperan dengan leluasa, tidak terikat pada latar belakang sejarah dan warna lokal. Pengertian lain juga diungkapkan oleh Danandjaya (2002: 82) yang mendefinisikan bahwa dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.
Dari pengertian-pengertian dongeng yang telah dikemukakan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dongeng adalah cerita prosa rakyat yang bersifat rekaan, dan dianggap tidak benar-benar terjadi.

Mengenal Jenis-Jenis Dongeng
Penggolongan jenis dongeng ada berbagai macam. Danandjaya (2002: 86) dan Santosa (1996: 85) mengklasifikasikan jenis dongeng seperti berikut. Berdasarkan isinya Santosa (1996, 85-87) mengklasifikasikan dongeng menjadi enam bagian, sebagai berikut.

Fabel
Pernahkah mendengar istilah fabel? Fabel adalah dongeng tentang binatang yang dapat berkata-kata, berfikir, dan berperilaku seperti lazimnya manusia dalam kehidupan sehari-hari (Santosa, 1996:86). Di dalam fabel ini digambarkan masalah moral dan ajaran hidup yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Santosa juga menyebutkan bahwa ada dua kategori fabel, yaitu (1) cerita tentang asal-usul kejadian suatu binatang berdasarkan wujud atau bentuk yang ada sekarang ini, dan (2) cerita tentang binatang yang mengandung unsur pendidikan moral. Contoh fabel adalah sebagai berikut (1) Dongeng kancil atau pelanduk jenaka (cerita binatang klasik di Indonesia), dan (2) Semut dan Belalang dan sebagainya.

Legenda
Legenda adalah dongeng tentang orang suci, seperti wali, pahlawan atau tokoh lain. Dongeng ini bersifat kesejarahan dan secara popular diterima sebagai kebenaran, walaupun kepastian ilmiahnya tidak ada. Di dalam legenda terdapat cerita asal-usul. Contoh legenda adalah sebagai berikut (1) Sangkuriang (terjadinya Gunung Tangkubanperahu, dari Jawa Barat), (2) Sri Tanjung (asal-usul terjadinya kota Banyuwangi, dari Jawa Timur), dan (3) Malin Kundang (dari Sumatra Barat) dan sebagainya.

Mite
Mite adalah dongeng tentang asal-usul suatu hal atau cerita dewa-dewa (termasuk roh halus) yang diyakini sebagai kebenaran. Contoh mite antara lain (1) Nyai Lara Kidul (Ratu yang menguasai laut selatan), (2) Dewi Sri (Ratu padi), dan (3) Ajisaka (tokoh yang menciptakan huruf Jawa dan dapat mengalahkan kesaktian raja raksasa Dewata Cengkar dengan menggunakan selembar ikat kepala) dan sebagainya.

Sage
Sage adalah dongeng yang berdasarkan pada peristiwa yang telah bercampur dengan fantasi rakyat, bersifat legendaris dan kepahlawanan keluarga. Contoh sage sebagai berikut (1) Lutung Kasarung (cerita dari Jawa Tengah), (2) Damar Wulan (cerita dari Jawa Timur), dan (3) Panji Laras (cerita dari Jawa Timur) dan sebagainya.

Parabel
Parabel adalah dongeng yang berisi kiasan-kiasan atau ibarat yang menyampaikan ajaran agama, moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan perbandingan atau tamsil. Contoh parabel sebagai berikut (1) Pak Banjir (dari Jawa), (2) Malin Kundang (dari Minangkabau), dan (3) Sangkuriang (dari Sunda) dan sebagainya.

Cerita pelipur lara
Cerita pelipur lara adalah dongeng yang memberi hiburan karena mengandung humor, perbandingan, dan sindiran. Istilah lain cerita pelipur lara adalah cerita penggeli hati atau cerita jenaka. Disebut demikian karena mengandung rasa humor melihat tingkah laku si pelaku yang aneh dan lucu. Dalam cerita ini sang tokoh dianggap lucu karena sok pintar, terlalu bodoh, nasibnya yang selalu sial, atau sebaliknya selalu beruntung sehingga tidak wajar dan membuat tertawa pembaca. Contoh cerita ini adalah (1) Abu Nawas (dari Persia/Arab), (2) Si Kabayan (dari Sunda), dan Pak Banjir dan Joko Bodo (dari Jawa), dan sebagainya.

Klasifikasi dongeng yang dikemukakan Danandjaya ini memiliki perbedaan yang khas dengan pendapat Santosa. Sebab ahli tersebut memasukkan legenda dan mite sebagai salah satu bagian dari dongeng. Danandjaya (2002: 50) membedakan mite, dongeng dan legenda sebagai bagian dari jenis-jenis cerita prosa rakyat. Penggolongan dongeng oleh Aarne dan Thompson (dalam Danandjaya, 2002: 86) terdiri atas empat golongan besar, sebagai berikut.

Dongeng Binatang
Dongeng binatang adalah dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata (reptilia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal seperti manusia.

Dongeng Biasa
Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang. Dongeng yang bertipe ini antara lain adalah dongeng Ande-ande Lumut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bawang merah dan bawang putih dari Jakarta, dan sebagainya.

Lelucon dan Anekdot
Lelucon dan anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan ketawa bagi yang mendengarnya maupun yang menceritakannya. Walaupun demikian bagi kolektif atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu dapat menimbulkan rasa sakit hati. Lelucon dan anekdot pada dasarnya memiliki perbedaan. Anekdot menyangkut kisah-kisah fiktif lucu pribadi seseorang tokoh atau beberapa tokoh, yang benar-benar ada, sedangkan lelucon menyangkut kisah fiktif lucu anggota suatu kolekif, seperti suku bangsa, golongan, bangsa, dan ras. Selanjutnya berdasarkan perbedaan sasaran dilontarkannya suatu lelucon perlu dibedakan lagi menjadi lelucon dan humor. Sasaran dalam lelucon adalah orang atau kolektif lain, sedangkan yang menjadi sasaran humor adalah dirinya sendiri atau kolektif si pembawa cerita sendiri. Jadi, seorang pelawak pembawa lelucon (badut) berbeda dengan seorang pelawak humoris. Seorang pelawak pembawa lelucon sering dibenci orang karena sering menyinggung perasaan orang atau kolektif lain, sedangkan seorang pelawak humoris disenangi orang karena tidak menganggu perasaan orang lain atau kolektif lain.

Dongeng Berumus
Aarne dan Thompson dalam Danandjaya (2002: 139-140) menyebutkan bahwa dongeng berumus adalah formula tales dan strukturnya terdiri dari pengulangan. Dongeng-dongeng berumus mempunyai beberapa subbentuk, yaitu: (1) dongeng bertimbun banyak (cumulative tales), disebut juga dongeng berantai (chain tales), adalah dongeng yang dibentuk dengan cara menambah keterangan lebih terperinci pada setiap pengulangan inti cerita. Di Indonesia dongeng semacam ini ada juga, misalnya lelucon yang bersifat penghinaan suku bangsa lain (ethnic slur), (2) dongeng untuk mempermainkan orang (catch tales), adalah cerita fiktif yang diceritakan khusus untuk memperdayai orang karena akan menyebabkan pendengarnya mengeluarkan pendapat yang bodoh. Bentuknya pun hampir sama dengan teka-teki untuk memperdayai orang (catch question). Bedanya hanya bahwa pada catch tales selalu dimulai dengan sebuah cerita dan bukan hanya pada sebuah perbuatan saja, dan (3) dongeng yang tidak mempunyai akhir (endless tales), adalah dongeng yang jika diteruskan tidak akan sampai pada batas akhir.

Fungsi Dongeng
Dongeng merupakan salah satu karya sastra fiksi yang mempunyai misi untuk memberikan pelajaran moral (Nurgiyantoro, 2005: 200). Kemunculan dongeng sebagai salah satu prosa fiksi yang tergolong cerita rakyat memiliki fungsi tersendiri. Fungsi dongeng menurut Danandjaya (2002: 140-141) meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) sebagai sistem proyeksi, (2) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, (3) alat pendidikan, dan (4) penghibur hati penonton yang sedang lara atau dalam arti penghibur ketegangan yang ada pada masyarakat.

Unsur Intrinsik Dongeng
Sebagai sebuah karya sastra yang berbentuk prosa, tentunya dongeng memiliki unsur-unsur pembangun karya sastra. Dongeng merupakan bagian dari prosa fiksi (Santosa, 1996: 86). Perbedaan berbagai macam bentuk dalam karya fiksi hanya terletak pada kadar panjang pendeknya isi cerita, kompleksitas cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung cerita itu sendiri. Akan tetapi elemen-elemen yang dikandung oleh setiap bentuk prosa fiksi maupun cara pengarang memaparkan isi ceritanya memiliki kesamaan, meskipun dalam unsur-unsur tertentu mengandung perbedaan (Aminuddin, 1984: 60). Oleh sebab itu unsur-unsur dalam cerita rekaan memiliki kesamaan dengan dongeng. Dengan demikian, unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen juga dapat diterapkan untuk mengkaji unsur-unsur yang terdapat dalam dongeng.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra. Unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra (Nurgiyantoro, 1994: 23). Unsur intrinsik dalam dongeng meliputi (1) alur, (2) tokoh dan watak tokoh (3) latar, dan (4) tema.

Alur
Aminuddin (1984: 92) menjelaskan bahwa alur dalam prosa fiksi merupakan rangkaian cerita yang dihadirkan oleh para pelaku. Alur juga merupakan rangkaian yang disebut tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjadi suatu cerita yang dihadirkan oleh para tokoh dalam suatu cerita.

Alur adalah berbagai peristiwa dalam sebuah cerita rekaan yang disajikan dengan urutan tertentu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa meskipun cerita rekaan berbagai ragam coraknya, tetapi ada pola-pola tertentu yang hampir selalu ada dalam sebuah cerita rekaan. Struktur umum tersebut terdiri atas awal, tengah, dan akhir cerita.
Alur sebuah cerita mengandung urutan atau tahapan waktu, baik yang ditemukan secara eksplisit maupun secara implisit. Oleh karena itu, dalam sebuah cerita atau prosa fiksi terdapat awal kejadian, kejadian-kejadian berikutnya, dan akhir kejadian. Akan tetapi, alur sebuah karya fiksi sering tidak menyajikan urutan peristiwa secara kronologis dan runtut, melainkan penyajian dimulai dan diakhiri dengan kejadian yang manapun tanpa ada ketentuan yang pasti. Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus berada di awal cerita, melainkan dapat terletak di bagian manapun (Nurgiyantoro, 1995: 141-142).

Santosa (1996: 99) menjelaskan bahwa alur adalah jalan cerita atau rangkaian peristiwa yang sambung-menyambung berdasarkan hukum sebab-akibat yang secara erat bertautan mendukung struktur cerita rekaan. Bagi pembaca, pemahaman alur berarti juga pemahaman terhadap keseluruhan isi cerita secara runtut, jelas karena dalam setiap tahapan plot sudah terkandung semua unsur yang membentuk karya fiksi (Aminuddin, 1987: 86).

Dari beberapa pendapat mengenai alur, dapat disimpulkan bahwa alur adalah rangkaian peristiwa-peristiwa yang dibentuk oleh tahapan-tahapan dan memiliki hubungan sebab-akibat.

Alur sebuah dongeng sama dengan alur cerita lainnya. Alur cerita pendek atau dongeng lebih sederhana daripada alur novel. Secara umum urutan alur dalam dongeng dapat dijelaskan sebagai berikut.
(1) Eksposisi (exposition), yakni tahap cerita tempat pengarang mulai melukiskan satu keadaan yang merupakan awal cerita.
(2) Konflik (conflict), yaitu munculnya perselisihan antar tokoh karena ada kepentingan yang berbenturan tetapi tidak terselesaikan.
(3) Komplikasi (complication), yakni tahapan cerita yang melukiskan konflik-konflik seperti yang di atas mulai memuncak.
(4) Krisis/Klimaks (climax), yakni tahapan cerita yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya. Bagian ini dapat berupa bertemunya dua tokoh yang sebelumnya saling mencari, atau dapat pula berupa terjadinya perkelahian antara dua tokoh yang sebelumnya digambarkan saling bermusuhan.
(5) Leraian (falling action), yakni bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.
(6) Penyelesaian (denoument), yakni tahap akhir cerita yang merupakan penyelesaian masalah.

Alur sebuah dongeng adalah menarik dan imajinatif sebab, alur dongeng tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata. Alur dongeng yang imajinatif biasanya dapat mengubah latar cerita.

Perhatikan contoh berikut.
Hari yang dijanjikan datang juga. Raksasa datang menemui mereka. Ia menagih janji kepada Mbok Sirni dan suaminya untuk menyerahkan Timun Emas. Ketika itu, mereka sudah menyuruh Timun Emas pergi keluar lewat pintu belakang. “Hai Petani, mana anakmu? Aku sudah tidak sabar untuk memakannya. Serahkan dia padaku!” perintah raksasa.

“Maaf tuan Raksasa, Timun Emas sedang pergi bermain. Biar istriku pergi mencarinya,” Dalih suami mbok Sirni. Raksasa curiga, ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh pasangan petani itu. ia pun marah. Ladang dan rumah milik kedua petani itu dihancurkan. Ia pun segera mencari Timun Emas.

Ketika raksasa itu sedang kalap, ia melihat sosok gadis yang sedang berlari di kejauhan. Ternyata gadis itu adalah Timun Emas. Meskipun Timun Emas sudah berlari sangat jauh, tapi tetap saja sang raksasa dengan tubuh dan langkahnya yang besar dapat dengan mudah mengejar Timun Emas.

Ketika raksasa mulai mendekat, Timun Emas mengeluarkan penangkal yang diberikan orangtuanya. Pertama, ia mengeluarkan biji timun dan menebarkannya di depan raksasa. Biji-biji timun itu berubah menjadi ladang timun yang lebat buahnya. Melihat hal itu, raksasa berhenti mengejar Timun Emas. Ia asyik memakan buah timun di ladang itu. Namun, ketika menyadari incarannya sudah mulai pergi jauh, ia kembali mengejar. Bahkan kekuatannya bertambah setelah memakan banyak timun dari ladang tersebut.

Timun Emas terus berlari. Tapi, tetap saja dapat dikejar. Kali ini Timun emas mengeluarkan penangkalnya yang kedua yaitu jarum. Ditebarkanlah jarum itu di jalan yang telah ia lewati. Hal ajaib pun terjadi lagi. Jarum-jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bamboo yang sangat tinggi dan tajam.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Dari contoh peristiwa di atas dapat dilihat bahwa alur dongeng Timun Emas imajinatif dan tidak dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Alur dongeng Timun Emas menarik dan imajinatif serta alur dapat mengubah latar cerita. Alur dongeng dapat mengubah latar cerita yakni ketika sang raksasa mengejar Timun Emas. Timun Emas mengeluarkan penangkal berupa biji timun dan menebarkannya hingga menjadi ladang timun kemudian, Timun Emas kembali menebarkan penangkalnya yang kedua berupa jarum dan jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam.

Tokoh dan Watak Tokoh
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku tertentu. Menurut Aminuddin, tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2002: 79). Menurut Nurgiyantoro (1994: 165) istilah “tokoh “ menunjuk pada orangnya, atau pelaku cerita. Sedangkan watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca dan lebih menunjuk pada kualitas pribadi seseorang.

Berdasarkan perannya, tokoh dibagi ke dalam tokoh utama dan tambahan. Menurut Nurgiyantoro (1994: 176), tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita.

Menurut (Santosa, 1996: 106), tokoh atau pelaku yang memainkan peran dalam cerita rekaan. Santosa Lebih lanjut menjelaskan bahwa tokoh dalam cerita rekaan dapat berupa manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, dewa, jin, dan roh halus diinsankan.
Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh inti atau tokoh utama. Tokoh yang tidak memiliki peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut dengan tokoh tambahan atau tokoh pembantu.

Dalam menentukan siapa tokoh utama atau tokoh pembantu, pembaca dapat menentukannya dengan cara, yaitu (1) melihat keseringan pemunculan tokoh dalam cerita, (2) melalui petunjuk yang diberikan oleh pengarang, yaitu sering diberi komentar atau dibicarakan oleh pengarang, dan (3) melalui judul cerita (Aminuddin, 1987: 80).

Berdasarkan fungsinya, tokoh dibagi ke dalam tokoh protagonis dan antagonis. Menurut Alternberd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 1994: 178), tokoh protagonis adalah tokoh yang dikagumi yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero, tokoh yang merupakan pengejewantahan norma-norma, dan nilai-nilai yang ideal. Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik.

Watak pelaku dalam sebuah prosa fiksi dapat diketahui pembacanya. (Aminuddin, 1987: 80-81) menjelaskan bahwa pemahaman watak pelaku dalam prosa fiksi dapat diketahui melalui: (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun cara berpakaian, (3) perilaku tokoh, (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) jalan pikiran tokoh, (6) tokoh lain yang berbicara tentangnya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya, (8) reaksi tokoh lain terhadapnya, dan (9) reaksi yang diberikan tokoh itu terhadap tokoh lain .
Tokoh beserta watak tokoh menurut (Nurgiyantoro, 1994: 195) digambarkan dengan berbagai teknik, antara lain: (a) teknik analitik, pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya, dan (b) teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tak langsung. Artinya pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktifitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Berdasarkan penjelasan mengenai tokoh dan watak tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam setiap karya prosa fiksi selalu terdapat tokoh dan watak tokoh, demikian juga halnya dalam dongeng. Tokoh dan watak tokoh dalam dongeng bersifat imajinatif atau spektakuler karena tidak selalu dapat dibuktikan dengan kehidupan nyata. Tokoh yang imajinatif misalnya: tokoh dapat terbang, tokoh adalah seorang manusia yang dapat berubah menjadi binatang, serta tokoh adalah seekor binatang yang dapat berbicara seperti manusia dan lain-lain.

Perhatikan contoh dongeng berikut.

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang cantik bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi memiliki kegemaran menenun. Suatu hari, ketika ia sedang menenun sambil menikmati pemandangan dari ruang atas istana, pintalan benang yang ia letakkan di pinggir jendela istana terjatuh dan menggelinding keluar.

Dengan kesal, ia berucap sesumbar, “Aduh, benangku terjatuh. Siapa pun yang mengambilkan benang itu untukku, jika ia perempuan akan kujadikan saudara, sedangkan jika ia laki-laki akan kujadikan suami.”
Tidak lama kemudian, datang seekor anjing hitam bernama Tumang mengambil benang Dayang Sumbi yang terjatuh dan mengantarkan kepadanya. Ia pun teringat dengan ucapannya. Jika ia tidak menepatinya, para Dewa pasti akan marah dan menghukumnya. Oleh karena itu, ia pun menikah dengan Tumang yang ternyata seorang titisan Dewa. Tumang adalah Dewa yang dikutuk menjadi binatang dan dibuang ke bumi.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Dalam kutipan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi tersebut, salah satu tokohnya adalah seekor binatang yang berupa anjing hitam. Dongeng ini tentu menggambarkan tokoh yang imajinatif karena, tokoh tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata. Tokoh yang imajinatif seperti di atas hanyalah dapat terjadi dalam dunia imajinasi.

Latar
Pada umumya suatu peristiwa terjadi pada waktu dan tempat tertentu serta situasi dan kondisi tertentu pula. Begitu pula peristiwa yang terjadi dalam dongeng, selalu terkait dengan hal tersebut. Tempat, waktu, serta situasi dan kondisi dalam sebuah karya fiksi disebut dengan setting atau latar. Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu , maupun peristiwa (Aminuddin, 2002: 67). Lebih lanjut Aminuddin mengungkapkan bahwa setting dalam prosa fiksi tidak hanya bersifat fisikal tetapi juga bersifat psikologis, artinya setting tersebut mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yang dapat menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembaca. Menurut Santosa (1996: 113), setting adalah segala keterangan, petunjuk, dan pengacuan terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Latar banyak memberikan informasi kepada pembaca mengenai keadaan alam, tempat, kapan peristiwa berlangsung dan dalam suasana apa peristiwa terjadi.
Dari tiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa latar adalah keterangan tentang tempat, waktu, situasi dan kondisi berlangsungnya peristiwa dalam sebuah cerita. Umumnya dalam sebuah dongeng, latar bersifat fiktif (rekaan) dan imajinatif karena tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata misalnya di kerajaan langit, kerajaan laut, kerajaan perut bumi, dan sebagainya.

Perhatikan contoh berikut.

Saat Nawang Wulan pulang ia mengetahui Jaka Tarub telah melanggar pesannya. Ia menjadi sangat marah. Keesokan hari Nawang Wulan menanak nasi dengan beras yang banyak. Itu dilakukannya setiap hari. Lama-kelamaan, persediaan padi yang ada di lumbung semakin sedikit. Itu artinya tumpukan padi semakin menipis.
Saat akan mengambil tumpukan padi yang sedikit itu, tiba-tiba di bawah tumpukan padi Nawang Wulan menemukan sebuah selendang. Ia sangat kenal dengan selendang itu. ternyata, itu memang selendang miliknya yang telah hilang.

“Hah selendangku yang hilang. Mengapa ada di sini? Benarkah kakang Jaka yang telah mengambilnya?” tanya Nawang Wulan dalam hati. Nawang Wulan segera mengenakan selendang itu.
Sementara itu, Jaka Tarub sudah sejak tadi mencari-cari istrinya. Ia pergi menuju lumbung. Siapa tahu istrinya berada di sana. namun, betapa terkejutnya Jaka tarub dengan apa yang dilihatnya. Nawang Wulan telah mengenakan selendang bidadarinya.

“Maaf Kakang, aku harus pergi kembali ke kayangan,”ucap Nawang Wulan.
“Nawang Wulan, aku tahu aku salah. Aku telah mencuri selendangmu. Tapi bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega meninggalkannya?” tanya Jaka Tarub sambil memelas.

“Aku tidak menyangka kau telah menipuku sekian lama. Aku memang tidak tega meninggalkan Nawangsih. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku harus kembali ke kayangan karena itulah tempatku, “ucap Nawang Wulan.
“Tapi, anak kita masih sangat membutuhkanmu. Ia masih menyusu. Lalu, apa yang harus kuperbuat tanpamu, Nawang Wulan?” ucap Jaka Tarub.

“Aku akan tetap menjalankan kewajibanku untuk menyusuinya. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui. Karenanya buatkanlah dangau (gubuk atau rumah kecil di sawah/ di ladang yang digunakan untuk tempat berteduh ketika menjaga tanaman/padi) untukku. Letakkan Nawangsih di situ. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah kau mendekati dangau itu selama aku menyusui, “ ucap Nawang Wulan.
“Nawang Wulan, tidak bisakah kau tinggal bersama kami di sini. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Tapi kumohon, kau jangan pergi, “bujuk Jaka Tarub.

Tapi keputusan Nawang Wulan tidak dapat ditawar lagi. Tekadnya untuk kembali ke kayangan sudah bulat. Dengan berurai air mata, Nawang Wulan menciumi Nawangsih yang berada dalam dekapan Jaka Tarub. Setelah itu Nawang Wulan terbang ke kayangan sambil melambaikan tangannya.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Latar dalam kutipan dongeng Jaka Tingkir dan Bidadari Cantik adalah berada di alam nyata dan kayangan. Latar yang terjadi di alam nyata terbukti saat Nawang Wulan masih menjadi istri dari Jaka Tarub ia merasa telah ditipu. Nawang Wulan menemukan selendang miliknya diatas tumpukan padi yang tak lain telah disembunyikan oleh Jaka Tarub agar ia tidak dapat kembali ke kayangan. Nawang Wulan kemudian marah dan ia kembali ke kayangan. Nawang Wulan meminta kepada suaminya itu untuk membuatkan sebuah gubuk untuk menyusui anaknya setiap malam.

Latar yang terjadi di kayangan dalam kutipan dongeng Jaka Tingkir dan Bidadari Cantik ini tidak dinyatakan secara eksplisit. Namun, berdasarkan kutipan dongeng di atas sudah mampu mewakili bahwa sesungguhnya seorang bidadari tinggalnya berada di kayangan. Latar yang demikian ini menggambarkan peristiwa yang imajinatif karena latar yang terjadi di kayangan tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata dan hanya terjadi dalam dunia imajinasi.

Tema
Menurut Scharbach (dalam Aminuddin, 1987: 91), tema berasal dari bahasa Latin yang berarti “tempat meletakkan sesuatu perangkat”. Dalam rumusannya yang lebih rinci, Aminuddin menyebutkan bahwa tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal total pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema dalam cerita merupakan hal yang abstrak atau tersembunyi dan harus ditemukan oleh pembaca. Pengarang tidak semata-mata menyatakan apa yang menjadi inti persoalan atau permasalahan dalam ceritanya, meskipun kadang-kadang terdapat kata-kata atau kalimat kunci dalam bagian cerita yang diciptakannya.

Menurut Aminuddin (1987: 97) makna dan tujuan sebagai hal yang terkait erat dengan tema. Lebih lanjut Aminuddin menjelaskan bahwa pembaca dapat memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang membangun suatu cerita, menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya

Menurut Nurgiyantoro (1994: 66) setiap karya fiksi tentu mengandung dan menawarkan tema, namun isi tema itu sendiri tidak mudah ditunjukkan. Dengan kata lain, menemukan sebuah tema merupakan kegiatan yang tidak mudah dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tema pada umumnya tidak dilukiskan secara eksplisit. Kehadiran tema adalah implisit dan merasuki keseluruhan cerita. Hal ini yang menyebabkan tidak mudahnya penafsiran sebuah tema (Nurgiyantoro, 1994: 68-69).

Dalam upaya pemahaman tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah secara cermat berikut: (1) memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca, (2) memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca, (3) memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca, (4) memahami plot atau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca, (5) menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita, (6) menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkannya, (7) mengindentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya, dan (8) menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya.

Dari beberapa ulasan tentang tema di atas, dapat dimaklumi bahwa upaya pemahaman tentang tema dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Unsur lain yang diperoleh pembaca sewaktu berusaha memahami tema seperti telah disinggung dalam delapan langkah tersebut adalah unsur pokok pikiran, pokok persoalan atau subject matter. Lewat pemahaman pokok persoalan itu pada langkah yang lebih lanjut pembaca juga akan juga menemukan nilai-nilai didaktis yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaan serta hidup dan kehidupan. Demikian juga dalam dongeng, pemahaman tema dapat dilakukan dalam upaya untuk menemukan nilai-nilai didaktis yang tersirat dalam keseluruhan unsur-unsurnya.

Bagikan

Jangan lewatkan

Mengasah Potensi Anak Dengan Dongeng
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.