Wednesday, December 19, 2012

Gapai Mimpiku dengan Tabungan Junior

Selasa, 18 Desember 2012, siswa MI Bilingual Al Ikhlas membuat Bank Muamalat Kepanjen sedikit kewalahan. Betapa tidak, 50 siswa yang dibagi menjadi 2 gelombang memenuhi kantor tersebut (semoga tahun depan bank Muamalat memiliki kantor yang lebih luas lagi, aminnn). Tahun Ajaran 2012-2013, MI Bilingual Al Ikhlas bekerja sama dengan Bank Muamalat dalam kegiatan menabung, program ini kami namakan "Menabung untuk Mimpiku".

Baca selengkapnya

Thursday, November 29, 2012

Revisi kurikulum tahun 2013

Rencana Perubahan Kurikulim pada Tahun 2013

JAKARTA – Revisi kurikulum tahun 2013 akan berubah drastis dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang. Dipastikan, kurikulum baru dilaksanakan secara bertahap, belum serentak secara nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, perubahan terjadi pada semua kurikulum mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK. Semua tingkatan mengalami pengurangan mata pelajaran. Selain itu, lamanya jam belajar bertambah 2–6 jam per minggu.
“Elemen perubahan kurikulum 2013 terjadi pada standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian,” katanya, Selasa (13/12).
Dipastikan implementasi kurikulum baru tahun 2013 akan dilaksanakan secara bertahap pada kelas I, IV, VII, dan X di semua sekolah di Indonesia.
Mendikbud mengatakan, telah melaporkan pengembangan kurikulum 2013 kepada Wakil Presiden Boediono. Sebelum diterapkan, kurikulum baru akan diuji publik ke masyarakat pada awal Desember. Draf kurikulum 2013 akan dimuat di website, dan masyarakat dapat memberi masukan. Selain itu, akan dilakukan roadshow ke daerah dan berdiskusi dengan guru, tokoh pendidik, orang tua murid, dan masyarakat.
Dia menyebutkan perubahan paling besar adalah pada SD, karena dianggap paling krusial dan kritikal. Debat yang sangat panjang terjadi pada penyusunan kurikulum SD. Ini karena semua menganggap penerapan kurikulum SD yang bagus akan berdampak baik juga di tingkat-tingkat selanjutnya. “Kurikulum SD akan berlaku tematik integratif dalam semua mata pelajaran. Artinya pelajaran didasarkan atas tema, kemudian tema itu mengaitkan berbagai mata pelajaran. Misalnya, tema sungai bisa dibahas melalui pelajaran Sains, Agama, Bahasa Indonesia dan PPKN,” jelas Nuh.
Jumlah mata pelajarannya berkurang dari 10 menjadi enam mata pelajaran, yakni Kelompok A: Bahasa Indonesia, PPKN, Pendidikan Agama, Matematika, serta Kelompok B: dua muatan lokal, yaitu Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta Seni Budaya dan Prakarya. Bahasa Inggris tidak menjadi pelajaran wajib di SD. Jam belajar bertambah dari 26 jam per minggu menjadi 30 jam per minggu.
Perubahan struktur kurikulum SMP, jumlah mata pelajaran dari 12 menjadi 10. Mata pelajaran tersebut adalah Kelompok A: Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa Inggris. Kelompok B: tiga muatan lokal, yakni Seni Budaya, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta Prakarya. Jumlah jam belajar bertambah empat jam per minggu, dari 32 jam menjadi 38 jam per minggu.
Struktur kurikulum SMA mengalami perubahan dengan adanya mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan. Kurikulum SMK menambah jenis bidang keahlian atau produktif, dan mengurangi mata pelajaran adaptif dan normatif. Jumlah mata pelajaran juga berkurang. Jumlah jam belajar bertambah satu jam per minggu.
Terkait penambahan jam belajar, Mendikbud menegaskan perubahan proses pembelajaran membutuhkan jam belajar lebih lama, karena siswa lebih aktif serta ada proses penilaian yang berubah. Indonesia juga dianggap sebagai negara yang memiliki jam belajar pendek dibandingkan negara lain. Padahal kecenderungan banyak negara sudah menambah jam belajarnya.
Sumber : Sinar Harapan

Baca selengkapnya

Tuesday, November 27, 2012

PAWAI TAHUN BARU ISLAM 1434 H

Jum'at, 16 Nopember 2012 Keluarga Besar MI Bilingual Al Ikhlas melakukan pawai dalam rangka Tahun Baru Islam 1434 H.

Untuk lebih membuat semarak pawai tersebut, seluruh siswa membuat slogan yang berisikan ucapan selamat dan doa di tahun 1434 H. Slogan-slogan tersebut kemudian dibawa dan diserukan kepada masyarakat sekitar sekolah.
Tema pawai kali ini adalah mengenalkan siswa untuk lebih berbagi lagi kepada sesama. Oleh karenanya ditengah-tengah pawai seluruh siswa juga membagikan hadiah hasil tabungannya sendiri untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.


Lima tahun ini, MI Bilingual Al Ikhlas melakukan pawai  peringatan Tahun Baru Islam hanya di sekitar lingkungan sekolah, semoga saja di tahun depan, pawai bisa kami hadirkan lebih semarak lagi di kota Kepanjen bersama teman-teman madrasah yang lainnya.
Baca selengkapnya

Monday, November 26, 2012

SELAMAT HARI GURU

Adakala..
Kita dicaci,
Kita dimusuhi, kita tidak dihargai,
Tapi..
Kita kan tetap tersenyum walaupun dalam pilu,
Kita kan tetap melangkah biarpun hampir rebah,
Kita kan tetap tekun, ikhlas dan sabar meskipun hati tercalar dan marah tercabar,
KELUARGA BESAR MI BILINGUAL AL IKHLAS MENGUCAPKAN

“SELAMAT HARI GURU”
Sumber:http://mapendakabmalang.wordpress.com/


Baca selengkapnya

Saturday, November 24, 2012

Panduan Untuk Musafir


Panduan Untuk Musafir

Dalam Suatu Perjalanan

Ditengah-tengah kesibukan Anda menyiapkan tas travel dan koper dengan segenap perbekalan dan perlengkapan cobalah sisihkan sedikit waktu untuk merenung sejenak; Apa niat dan tujuan kepergian Anda? Jika niat kepergian Anda adalah baik maka kabar gembira untuk Anda dengan sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam , artinya: "Barangsiapa yang berkeinginan untuk melakukan suatu kebaikan namun belum sempat menunaikannya maka Allah mencatat untuknya satu kebaikan yang utuh." (HR Al Bukhari). Jikalau yang Anda niatkan bukan kebaikan maka hendaknya hati-hati dan waspada, karena Nabi telah menjelaskan bahwa dunia ini untuk empat golongan orang:

Pertama, hamba yang diberi oleh Allah harta dan ilmu lalu ia berhati-hati dan bertakwa kepada Rabbnya, menyambung silatur rahim dan ia tahu bahwa Allah memiliki hak atasnya, dan inilah kedudukan termulia seorang hamba.

Kedua, hamba yang diberi oleh Allah ilmu namun tidak mendapat limpahan rizki, namun ia punya niat yang benar dengan mengatakan: "Jika Allah memberiku harta maka akan kugunakan untuk amal kebaikan sebagaimana si fulan, maka ia mendapat pahala sebagaimana orang yang pertama.

Ketiga, hamba yang diberi limpahan rizki oleh Allah tetapi ia tidak mendapatkan ilmu sehingga ia menghabiskan hartanya dengan tanpa ilmu dan tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak mau menyambung silatur rahim dan tidak tahu bahwa Allah memiliki hak atas hartanya, maka inilah kedudukan terburuk seorang hamba.

Keempat, hamba yang tidak diberi oleh Allah harta maupun ilmu, ia mengatakan: "Andaikan aku kaya seperti si fulan maka aku akan (berfoya-foya) seperti yang ia kerjakan, sedangkan dia tetap dalam niatnya maka dosa keduanya adalah sama.

Jenis-jenis safar
Bepergian atau safar ada tiga macam:
1.      Safar yang terpuji, bisa jadi ia adalah wajib seperti pergi haji bagi yang mampu, belajar menuntut ilmu, keluar dari negeri kafir menuju negeri muslim dan lain-lain. Mungkin juga ia adalah mustahab (dianjurkan) seperti mengunjungi kerabat dan orang alim atau sesuatu yang mubah seperti untuk urusan kerja agar kebutuhannya tercukupi.
2.      Safar yang dibenci (makruh), seperti keluar dari suatu negeri yang sedang terserang wabah.
3.      Safar yang tercela dan dilarang seperti pergi dalam rangka mendurhakai orang tua atau bepergian untuk tujuan jahat dan kerusakan.
Ada seorang alim ditanya tentang safar yang paling utama, maka beliau menjawab: "Yaitu yang paling membantu dalam urusan agama (ketaatan). "

Siapa teman Anda dalam safar?
Sendirian dalam safar merupakan perkara yang tercela dan dibenci, karena hal itu berbahaya untuk urusan agama maupun dunia seperti terhalang-nya untuk shalat berjama'ah, munculnya perasaan gelisah dan kesal, kemung-kinan marabahaya, dan rasa sepi karena tanpa teman.
Dalam hal memilih teman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah memberikan gambaran yang jelas yaitu dengan sabdanya, yang artinya: "Perumpamaan teman duduk yang baik dan yang buruk diumpamakan seperti penjual minyak wangi dengan peniup pande besi. "(Muttafaq alaih)
Dalam hadits yang lain Rasulullah juga pernah bersabda, artinya: "Sese-orang sangat bergantung erat dengan kondisi agama temannya, maka hendaknya salah seorang dari kamu melihat dengan siapa ia berteman. "(HR At Tirmidzi dengan menyatakan hasan hadits ini).
Dengan memegang erat nasehat Nabi ini diharapkan kita tidak termasuk golongan orang yang menyesal kelak dihari kiamat gara-gara salah memilih teman, ia mengatakan : "Wahai sungguh celaka aku, kalau saja aku dulu tidak menjadikan si fulan sebagai sahabatku tentu nasibku tak akan begini. "

Safar ke negara kafir
Safar melancong ke negara kafir menurut Syaikh Abdur Rahman Al Jibrin jika tujuannya hanya sekedar tamasya dan wisata merupakan hal yang dibenci agama dan tidak sepantasnya dilakukan karena sangat banyaknya fitnah dan bahaya. Sedangkan jika untuk tujuan dakwah, taklim, menyebarkan agama dan nasehat merupakan perkara mustahab (disukai dan dianjurkan) dan pelakunya akan memperoleh pahala karena telah menampakkan syi'ar Islam dan ketinggiannya. Adapun untuk urusan perdagangan dan bisnis maka ia mubah dengan syarat mampu memperlihatkan identitas keislamannya, berpegang teguh dengan ajaran Islam. Jika tidak mampu komitmen dengan ketentuan tersebut bahkan terbawa arus seperti mengikuti adat dan mode kafirin, meninggalkan shalat jama'ah dan adzan (padahal rombongan), mencukur jenggot dan terkesan rela terhadap kekufuran, kemusyrikan maupun kemungkaran karena ketidakberdayaan, maka yang demikian hukumnya menjadi haram walaupun untuk tujuan berdagang.
Tak henti-hentinya orang kafir memasang iklan, menyebar pamflet dan brosur mempropagandakan agar kaum muslimin dan putra-putrinya melancong ke negeri mereka entah itu dengan alasan studi maupun sekedar untuk mengisi liburan. Diantara tujuan mereka yang terpenting dari program ini adalah:
1.      Untuk menyelewengkan dan menyesatkan remaja kaum muslimin.
2.      Merusak moral dan menjerumuskan mereka ke dalam kehinaan denga cara menyediakan sarana dan media yang merusak yang bisa diperoleh dengan mudah di sembarang tempat.
3.      Menanamkan keraguan dalam bidang akidah dan keimanan.
4.      Menanamkan jiwa kagum terhadap penampilam kaum kafir.
5.      Mendorong orang Islam agar mayoritas tingkah lakunya mengikuti budaya kafir dan adat mereka yang buruk.
6.      Membiasakan untuk tidak konsisten dengan nilai-nilai Islam, tidak mau memperhatikan adab dan perintah - perintah agama.
7.      Mengkader para pemuda muslim agar menjadi corong untuk mempropagandakan negeri mereka yang kafir, sehingga setelah kembali dari peran-tauan atau bepergian jadilah orang yang kenyang dengan pemikiran kafir, adat kebiasaan mereka, sistim kerja dan bisnis mereka.

Tempat tempat yang seharusnya dihindari

Jangan sampai kita memasuki tempat-tempat yang dapat menyeret kepada perbuatan dosa seperti: Pentas Musik dan sejenisnya, tempat yang terjadi ikhtilat (campur baur bebas pria wanita), diskotik pub dan semisalnya serta bioskop-bioskop juga tempat kemaksiatan lain secara umum.
Cobalah kita tanya diri kita tentang tempat-tempat tersebut:
·         Adakah didalam tempat-tempat tersebut wajah-wajah sejuk dan indah yang dapat mengingatkan kita kepada Allah?
·         Apakah kita senang jika kematian menjemput sedangkan kita berada dalam tempat tersebut?Bukankah banyak tempat maksiat yang mendadak terbakar dan menelan korban, terjadi ribut dan perkelahian dan sebagainya?
·         Apakah jika anak-anak kita memasukinya dia disana akan belajar birul walidain dan adab kepada orang tua?
·         Apakah ditempat-tampat tersebut diajarkan keluhuran budi dan akhlak yang baik?
·         Apakah kita senang jika dalam lembaran amal kita tertulis bahwa dulu semasa didunia kita sering memasuki tempat-tempat itu?
Jangan lupa bahwa dikanan kiri kita ada malaikat yang mencatat seluruh amal perbuatan yang kita lakukan.

Petunjuk Penting
1.      Sebaiknya melakukan istikharah ketika akan menetapkan jenis safar.
2.      Jika telah memperoleh kemantapan hendaknya dimulai dengan taubat dan menjauhi bentuk-bentuk kezhaliman terhadap sesama makhluk. Jika punya hutang sebaiknya dilunasi dulu, jika belum sempat hendaknya minta izin kepada pihak yang kita hutangi.
3.      Hendaknya minta izin dan doa restu orang tua.
4.      Disunnahkan untuk bersama-sama dengan teman yang lain dan jika bisa lebih dari tiga orang.

Diantara ciri-ciri safar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam :
·         Safar beliau berkisar pada empat hal; untuk hijrah, jihad (dan ini yang terbanyak), untuk umrah dan untuk haji.
·         Nabi biasa keluar rumah hari Kamis diawal waktu siang.
·         Berdoa ketika naik kendaraan, bertakbir ketika menaikai tanjakan atau bukit, bertasbih ketika menuruni lembah.
·         Bersegera kembali kepada keluarga-nya jika keperluan telah selesai, tidak mengagetkan (membangunkan) mereka ketika pulang waktu malam.
·         Mengqashar (meringkas) shalat yang empat rakaat, dan berbuka ketika safar dibulan Ramadhan.

Mari Bandingkan
Mari bandingkan keadaan kita dengan mereka yang pergi ke kamp-kamp pengungsian untuk memberi bantuan kepada para pengungsi, mencurahkan perhatian dan waktunya untuk membantu saudaranya dalam rangka mencari ridha Allah dan memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada kaum muslimin.
Mari ukur diri kita dengan para relawan yang yang mendatangi negeri-negeri yang sedang dilanda kelaparan lalu ia sumbangkan sebagian hartanya dijalan Allah untuk membantu mengisi kekosongan perut saudaranya.
Bandingkan juga dengan mereka yang pergi dalam rangka dakwah menyeru umat kejalan Allah, menyebarkan ilmu, menumpas kebodohan dengan segenap kemampuan, memberantas kesyirikan dan kesesatan. Alangkah beruntungnya jika kita atau siapa saja yang memiliki kelebihan harta mau bergabung bersama-sama mereka menebar kebaikan dimuka bumi.

Safarnya wanita tanpa mahram
Nabi memperingatkan agar para wanita tidak melakukan safar kecuali bersama mahram. Dalam hadits disebut-kan: Dari Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Tidak boleh seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahram dan tidak boleh seorang laki-laki masuk (menemuinya) kecuali ia bersama mahramnya . " (HR Asy Syaikhan)
Para ulama dan masyayikh berpendapat bahwa larangan safar bagi wanita tanpa mahram sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi, jenis safar dan pertimbangan pertimbangan tehnis lainnya, artinya ia merupakan sesuatu yang mutlak. Demikian Wallahu a'lam bish shawab. (Disarikan dari bulletin Darul wathan, Lil musafirin)

Baca selengkapnya

Friday, November 16, 2012

"Sebelas Pernyataan Tak Terucap dari Anak"

"Sebelas Pernyataan Tak Terucap dari Anak"

  1. Cintailah aku sepenuh hati
  2. Aku ingin menjadi diri sendiri, maka hargailah aku
  3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku
  4. Jangan marahi aku di depan orang banyak
  5. Jangan bandingkan aku dengan kakak dan adikku
  6. Bapak dan ibu lupa, aku adalah fotocopymu
  7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku sebagai anak kecil
  8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu bila aku salah
  9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku
  10. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku
  11. Aku adalah "ladang pahala bagimu"


Baca selengkapnya

Tuesday, September 18, 2012

Mengasah Potensi Anak Dengan Dongeng

MENGASAH POTENSI ANAK DENGAN DONGENG
Apakah itu Dongeng?

Mendongeng
Dalam Ensiklopedia Indonesia edisi khusus (1986: 161) dijelaskan bahwa pengertian dongeng adalah cerita singkat tentang hal-hal yang aneh atau tidak masuk akal, berbagai keajaiban atau kesaktian; biasanya mengisahkan dewa, raja, pangeran dan putri.

Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) edisi ketiga (2003: 274), dinyatakan bahwa dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi, terutama tentang kejadian jaman dahulu yang aneh-aneh. Sedangkan menurut Santosa (1995: 85) dongeng adalah cerita rekaan yang bersifat khayal dan didalamnya fantasi berperan dengan leluasa, tidak terikat pada latar belakang sejarah dan warna lokal. Pengertian lain juga diungkapkan oleh Danandjaya (2002: 82) yang mendefinisikan bahwa dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.
Dari pengertian-pengertian dongeng yang telah dikemukakan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dongeng adalah cerita prosa rakyat yang bersifat rekaan, dan dianggap tidak benar-benar terjadi.

Mengenal Jenis-Jenis Dongeng
Penggolongan jenis dongeng ada berbagai macam. Danandjaya (2002: 86) dan Santosa (1996: 85) mengklasifikasikan jenis dongeng seperti berikut. Berdasarkan isinya Santosa (1996, 85-87) mengklasifikasikan dongeng menjadi enam bagian, sebagai berikut.

Fabel
Pernahkah mendengar istilah fabel? Fabel adalah dongeng tentang binatang yang dapat berkata-kata, berfikir, dan berperilaku seperti lazimnya manusia dalam kehidupan sehari-hari (Santosa, 1996:86). Di dalam fabel ini digambarkan masalah moral dan ajaran hidup yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Santosa juga menyebutkan bahwa ada dua kategori fabel, yaitu (1) cerita tentang asal-usul kejadian suatu binatang berdasarkan wujud atau bentuk yang ada sekarang ini, dan (2) cerita tentang binatang yang mengandung unsur pendidikan moral. Contoh fabel adalah sebagai berikut (1) Dongeng kancil atau pelanduk jenaka (cerita binatang klasik di Indonesia), dan (2) Semut dan Belalang dan sebagainya.

Legenda
Legenda adalah dongeng tentang orang suci, seperti wali, pahlawan atau tokoh lain. Dongeng ini bersifat kesejarahan dan secara popular diterima sebagai kebenaran, walaupun kepastian ilmiahnya tidak ada. Di dalam legenda terdapat cerita asal-usul. Contoh legenda adalah sebagai berikut (1) Sangkuriang (terjadinya Gunung Tangkubanperahu, dari Jawa Barat), (2) Sri Tanjung (asal-usul terjadinya kota Banyuwangi, dari Jawa Timur), dan (3) Malin Kundang (dari Sumatra Barat) dan sebagainya.

Mite
Mite adalah dongeng tentang asal-usul suatu hal atau cerita dewa-dewa (termasuk roh halus) yang diyakini sebagai kebenaran. Contoh mite antara lain (1) Nyai Lara Kidul (Ratu yang menguasai laut selatan), (2) Dewi Sri (Ratu padi), dan (3) Ajisaka (tokoh yang menciptakan huruf Jawa dan dapat mengalahkan kesaktian raja raksasa Dewata Cengkar dengan menggunakan selembar ikat kepala) dan sebagainya.

Sage
Sage adalah dongeng yang berdasarkan pada peristiwa yang telah bercampur dengan fantasi rakyat, bersifat legendaris dan kepahlawanan keluarga. Contoh sage sebagai berikut (1) Lutung Kasarung (cerita dari Jawa Tengah), (2) Damar Wulan (cerita dari Jawa Timur), dan (3) Panji Laras (cerita dari Jawa Timur) dan sebagainya.

Parabel
Parabel adalah dongeng yang berisi kiasan-kiasan atau ibarat yang menyampaikan ajaran agama, moral, atau kebenaran umum dengan menggunakan perbandingan atau tamsil. Contoh parabel sebagai berikut (1) Pak Banjir (dari Jawa), (2) Malin Kundang (dari Minangkabau), dan (3) Sangkuriang (dari Sunda) dan sebagainya.

Cerita pelipur lara
Cerita pelipur lara adalah dongeng yang memberi hiburan karena mengandung humor, perbandingan, dan sindiran. Istilah lain cerita pelipur lara adalah cerita penggeli hati atau cerita jenaka. Disebut demikian karena mengandung rasa humor melihat tingkah laku si pelaku yang aneh dan lucu. Dalam cerita ini sang tokoh dianggap lucu karena sok pintar, terlalu bodoh, nasibnya yang selalu sial, atau sebaliknya selalu beruntung sehingga tidak wajar dan membuat tertawa pembaca. Contoh cerita ini adalah (1) Abu Nawas (dari Persia/Arab), (2) Si Kabayan (dari Sunda), dan Pak Banjir dan Joko Bodo (dari Jawa), dan sebagainya.

Klasifikasi dongeng yang dikemukakan Danandjaya ini memiliki perbedaan yang khas dengan pendapat Santosa. Sebab ahli tersebut memasukkan legenda dan mite sebagai salah satu bagian dari dongeng. Danandjaya (2002: 50) membedakan mite, dongeng dan legenda sebagai bagian dari jenis-jenis cerita prosa rakyat. Penggolongan dongeng oleh Aarne dan Thompson (dalam Danandjaya, 2002: 86) terdiri atas empat golongan besar, sebagai berikut.

Dongeng Binatang
Dongeng binatang adalah dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata (reptilia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal seperti manusia.

Dongeng Biasa
Dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang. Dongeng yang bertipe ini antara lain adalah dongeng Ande-ande Lumut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bawang merah dan bawang putih dari Jakarta, dan sebagainya.

Lelucon dan Anekdot
Lelucon dan anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan ketawa bagi yang mendengarnya maupun yang menceritakannya. Walaupun demikian bagi kolektif atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu dapat menimbulkan rasa sakit hati. Lelucon dan anekdot pada dasarnya memiliki perbedaan. Anekdot menyangkut kisah-kisah fiktif lucu pribadi seseorang tokoh atau beberapa tokoh, yang benar-benar ada, sedangkan lelucon menyangkut kisah fiktif lucu anggota suatu kolekif, seperti suku bangsa, golongan, bangsa, dan ras. Selanjutnya berdasarkan perbedaan sasaran dilontarkannya suatu lelucon perlu dibedakan lagi menjadi lelucon dan humor. Sasaran dalam lelucon adalah orang atau kolektif lain, sedangkan yang menjadi sasaran humor adalah dirinya sendiri atau kolektif si pembawa cerita sendiri. Jadi, seorang pelawak pembawa lelucon (badut) berbeda dengan seorang pelawak humoris. Seorang pelawak pembawa lelucon sering dibenci orang karena sering menyinggung perasaan orang atau kolektif lain, sedangkan seorang pelawak humoris disenangi orang karena tidak menganggu perasaan orang lain atau kolektif lain.

Dongeng Berumus
Aarne dan Thompson dalam Danandjaya (2002: 139-140) menyebutkan bahwa dongeng berumus adalah formula tales dan strukturnya terdiri dari pengulangan. Dongeng-dongeng berumus mempunyai beberapa subbentuk, yaitu: (1) dongeng bertimbun banyak (cumulative tales), disebut juga dongeng berantai (chain tales), adalah dongeng yang dibentuk dengan cara menambah keterangan lebih terperinci pada setiap pengulangan inti cerita. Di Indonesia dongeng semacam ini ada juga, misalnya lelucon yang bersifat penghinaan suku bangsa lain (ethnic slur), (2) dongeng untuk mempermainkan orang (catch tales), adalah cerita fiktif yang diceritakan khusus untuk memperdayai orang karena akan menyebabkan pendengarnya mengeluarkan pendapat yang bodoh. Bentuknya pun hampir sama dengan teka-teki untuk memperdayai orang (catch question). Bedanya hanya bahwa pada catch tales selalu dimulai dengan sebuah cerita dan bukan hanya pada sebuah perbuatan saja, dan (3) dongeng yang tidak mempunyai akhir (endless tales), adalah dongeng yang jika diteruskan tidak akan sampai pada batas akhir.

Fungsi Dongeng
Dongeng merupakan salah satu karya sastra fiksi yang mempunyai misi untuk memberikan pelajaran moral (Nurgiyantoro, 2005: 200). Kemunculan dongeng sebagai salah satu prosa fiksi yang tergolong cerita rakyat memiliki fungsi tersendiri. Fungsi dongeng menurut Danandjaya (2002: 140-141) meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) sebagai sistem proyeksi, (2) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan, (3) alat pendidikan, dan (4) penghibur hati penonton yang sedang lara atau dalam arti penghibur ketegangan yang ada pada masyarakat.

Unsur Intrinsik Dongeng
Sebagai sebuah karya sastra yang berbentuk prosa, tentunya dongeng memiliki unsur-unsur pembangun karya sastra. Dongeng merupakan bagian dari prosa fiksi (Santosa, 1996: 86). Perbedaan berbagai macam bentuk dalam karya fiksi hanya terletak pada kadar panjang pendeknya isi cerita, kompleksitas cerita, serta jumlah pelaku yang mendukung cerita itu sendiri. Akan tetapi elemen-elemen yang dikandung oleh setiap bentuk prosa fiksi maupun cara pengarang memaparkan isi ceritanya memiliki kesamaan, meskipun dalam unsur-unsur tertentu mengandung perbedaan (Aminuddin, 1984: 60). Oleh sebab itu unsur-unsur dalam cerita rekaan memiliki kesamaan dengan dongeng. Dengan demikian, unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen juga dapat diterapkan untuk mengkaji unsur-unsur yang terdapat dalam dongeng.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra. Unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra (Nurgiyantoro, 1994: 23). Unsur intrinsik dalam dongeng meliputi (1) alur, (2) tokoh dan watak tokoh (3) latar, dan (4) tema.

Alur
Aminuddin (1984: 92) menjelaskan bahwa alur dalam prosa fiksi merupakan rangkaian cerita yang dihadirkan oleh para pelaku. Alur juga merupakan rangkaian yang disebut tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjadi suatu cerita yang dihadirkan oleh para tokoh dalam suatu cerita.

Alur adalah berbagai peristiwa dalam sebuah cerita rekaan yang disajikan dengan urutan tertentu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa meskipun cerita rekaan berbagai ragam coraknya, tetapi ada pola-pola tertentu yang hampir selalu ada dalam sebuah cerita rekaan. Struktur umum tersebut terdiri atas awal, tengah, dan akhir cerita.
Alur sebuah cerita mengandung urutan atau tahapan waktu, baik yang ditemukan secara eksplisit maupun secara implisit. Oleh karena itu, dalam sebuah cerita atau prosa fiksi terdapat awal kejadian, kejadian-kejadian berikutnya, dan akhir kejadian. Akan tetapi, alur sebuah karya fiksi sering tidak menyajikan urutan peristiwa secara kronologis dan runtut, melainkan penyajian dimulai dan diakhiri dengan kejadian yang manapun tanpa ada ketentuan yang pasti. Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus berada di awal cerita, melainkan dapat terletak di bagian manapun (Nurgiyantoro, 1995: 141-142).

Santosa (1996: 99) menjelaskan bahwa alur adalah jalan cerita atau rangkaian peristiwa yang sambung-menyambung berdasarkan hukum sebab-akibat yang secara erat bertautan mendukung struktur cerita rekaan. Bagi pembaca, pemahaman alur berarti juga pemahaman terhadap keseluruhan isi cerita secara runtut, jelas karena dalam setiap tahapan plot sudah terkandung semua unsur yang membentuk karya fiksi (Aminuddin, 1987: 86).

Dari beberapa pendapat mengenai alur, dapat disimpulkan bahwa alur adalah rangkaian peristiwa-peristiwa yang dibentuk oleh tahapan-tahapan dan memiliki hubungan sebab-akibat.

Alur sebuah dongeng sama dengan alur cerita lainnya. Alur cerita pendek atau dongeng lebih sederhana daripada alur novel. Secara umum urutan alur dalam dongeng dapat dijelaskan sebagai berikut.
(1) Eksposisi (exposition), yakni tahap cerita tempat pengarang mulai melukiskan satu keadaan yang merupakan awal cerita.
(2) Konflik (conflict), yaitu munculnya perselisihan antar tokoh karena ada kepentingan yang berbenturan tetapi tidak terselesaikan.
(3) Komplikasi (complication), yakni tahapan cerita yang melukiskan konflik-konflik seperti yang di atas mulai memuncak.
(4) Krisis/Klimaks (climax), yakni tahapan cerita yang melukiskan peristiwa mencapai puncaknya. Bagian ini dapat berupa bertemunya dua tokoh yang sebelumnya saling mencari, atau dapat pula berupa terjadinya perkelahian antara dua tokoh yang sebelumnya digambarkan saling bermusuhan.
(5) Leraian (falling action), yakni bagian cerita tempat pengarang memberikan pemecahan dari semua peristiwa yang telah terjadi dalam cerita atau bagian-bagian sebelumnya.
(6) Penyelesaian (denoument), yakni tahap akhir cerita yang merupakan penyelesaian masalah.

Alur sebuah dongeng adalah menarik dan imajinatif sebab, alur dongeng tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata. Alur dongeng yang imajinatif biasanya dapat mengubah latar cerita.

Perhatikan contoh berikut.
Hari yang dijanjikan datang juga. Raksasa datang menemui mereka. Ia menagih janji kepada Mbok Sirni dan suaminya untuk menyerahkan Timun Emas. Ketika itu, mereka sudah menyuruh Timun Emas pergi keluar lewat pintu belakang. “Hai Petani, mana anakmu? Aku sudah tidak sabar untuk memakannya. Serahkan dia padaku!” perintah raksasa.

“Maaf tuan Raksasa, Timun Emas sedang pergi bermain. Biar istriku pergi mencarinya,” Dalih suami mbok Sirni. Raksasa curiga, ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh pasangan petani itu. ia pun marah. Ladang dan rumah milik kedua petani itu dihancurkan. Ia pun segera mencari Timun Emas.

Ketika raksasa itu sedang kalap, ia melihat sosok gadis yang sedang berlari di kejauhan. Ternyata gadis itu adalah Timun Emas. Meskipun Timun Emas sudah berlari sangat jauh, tapi tetap saja sang raksasa dengan tubuh dan langkahnya yang besar dapat dengan mudah mengejar Timun Emas.

Ketika raksasa mulai mendekat, Timun Emas mengeluarkan penangkal yang diberikan orangtuanya. Pertama, ia mengeluarkan biji timun dan menebarkannya di depan raksasa. Biji-biji timun itu berubah menjadi ladang timun yang lebat buahnya. Melihat hal itu, raksasa berhenti mengejar Timun Emas. Ia asyik memakan buah timun di ladang itu. Namun, ketika menyadari incarannya sudah mulai pergi jauh, ia kembali mengejar. Bahkan kekuatannya bertambah setelah memakan banyak timun dari ladang tersebut.

Timun Emas terus berlari. Tapi, tetap saja dapat dikejar. Kali ini Timun emas mengeluarkan penangkalnya yang kedua yaitu jarum. Ditebarkanlah jarum itu di jalan yang telah ia lewati. Hal ajaib pun terjadi lagi. Jarum-jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bamboo yang sangat tinggi dan tajam.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Dari contoh peristiwa di atas dapat dilihat bahwa alur dongeng Timun Emas imajinatif dan tidak dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Alur dongeng Timun Emas menarik dan imajinatif serta alur dapat mengubah latar cerita. Alur dongeng dapat mengubah latar cerita yakni ketika sang raksasa mengejar Timun Emas. Timun Emas mengeluarkan penangkal berupa biji timun dan menebarkannya hingga menjadi ladang timun kemudian, Timun Emas kembali menebarkan penangkalnya yang kedua berupa jarum dan jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam.

Tokoh dan Watak Tokoh
Peristiwa dalam karya fiksi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari, selalu diemban oleh tokoh atau pelaku tertentu. Menurut Aminuddin, tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2002: 79). Menurut Nurgiyantoro (1994: 165) istilah “tokoh “ menunjuk pada orangnya, atau pelaku cerita. Sedangkan watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca dan lebih menunjuk pada kualitas pribadi seseorang.

Berdasarkan perannya, tokoh dibagi ke dalam tokoh utama dan tambahan. Menurut Nurgiyantoro (1994: 176), tokoh utama adalah tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus-menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya dimunculkan sekali atau beberapa kali dalam cerita.

Menurut (Santosa, 1996: 106), tokoh atau pelaku yang memainkan peran dalam cerita rekaan. Santosa Lebih lanjut menjelaskan bahwa tokoh dalam cerita rekaan dapat berupa manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, dewa, jin, dan roh halus diinsankan.
Para tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peranan yang berbeda-beda. Seorang tokoh yang memiliki peranan penting dalam suatu cerita disebut dengan tokoh inti atau tokoh utama. Tokoh yang tidak memiliki peranan penting karena pemunculannya hanya melengkapi, melayani, mendukung pelaku utama disebut dengan tokoh tambahan atau tokoh pembantu.

Dalam menentukan siapa tokoh utama atau tokoh pembantu, pembaca dapat menentukannya dengan cara, yaitu (1) melihat keseringan pemunculan tokoh dalam cerita, (2) melalui petunjuk yang diberikan oleh pengarang, yaitu sering diberi komentar atau dibicarakan oleh pengarang, dan (3) melalui judul cerita (Aminuddin, 1987: 80).

Berdasarkan fungsinya, tokoh dibagi ke dalam tokoh protagonis dan antagonis. Menurut Alternberd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 1994: 178), tokoh protagonis adalah tokoh yang dikagumi yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero, tokoh yang merupakan pengejewantahan norma-norma, dan nilai-nilai yang ideal. Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik.

Watak pelaku dalam sebuah prosa fiksi dapat diketahui pembacanya. (Aminuddin, 1987: 80-81) menjelaskan bahwa pemahaman watak pelaku dalam prosa fiksi dapat diketahui melalui: (1) tuturan pengarang terhadap karakteristik pelakunya, (2) gambaran yang diberikan pengarang lewat gambaran lingkungan kehidupannya maupun cara berpakaian, (3) perilaku tokoh, (4) melihat bagaimana tokoh itu berbicara tentang dirinya sendiri, (5) jalan pikiran tokoh, (6) tokoh lain yang berbicara tentangnya, (7) melihat bagaimana tokoh lain berbicara dengannya, (8) reaksi tokoh lain terhadapnya, dan (9) reaksi yang diberikan tokoh itu terhadap tokoh lain .
Tokoh beserta watak tokoh menurut (Nurgiyantoro, 1994: 195) digambarkan dengan berbagai teknik, antara lain: (a) teknik analitik, pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya, dan (b) teknik dramatik, artinya mirip dengan yang ditampilkan pada drama, dilakukan secara tak langsung. Artinya pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktifitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Berdasarkan penjelasan mengenai tokoh dan watak tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam setiap karya prosa fiksi selalu terdapat tokoh dan watak tokoh, demikian juga halnya dalam dongeng. Tokoh dan watak tokoh dalam dongeng bersifat imajinatif atau spektakuler karena tidak selalu dapat dibuktikan dengan kehidupan nyata. Tokoh yang imajinatif misalnya: tokoh dapat terbang, tokoh adalah seorang manusia yang dapat berubah menjadi binatang, serta tokoh adalah seekor binatang yang dapat berbicara seperti manusia dan lain-lain.

Perhatikan contoh dongeng berikut.

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang cantik bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi memiliki kegemaran menenun. Suatu hari, ketika ia sedang menenun sambil menikmati pemandangan dari ruang atas istana, pintalan benang yang ia letakkan di pinggir jendela istana terjatuh dan menggelinding keluar.

Dengan kesal, ia berucap sesumbar, “Aduh, benangku terjatuh. Siapa pun yang mengambilkan benang itu untukku, jika ia perempuan akan kujadikan saudara, sedangkan jika ia laki-laki akan kujadikan suami.”
Tidak lama kemudian, datang seekor anjing hitam bernama Tumang mengambil benang Dayang Sumbi yang terjatuh dan mengantarkan kepadanya. Ia pun teringat dengan ucapannya. Jika ia tidak menepatinya, para Dewa pasti akan marah dan menghukumnya. Oleh karena itu, ia pun menikah dengan Tumang yang ternyata seorang titisan Dewa. Tumang adalah Dewa yang dikutuk menjadi binatang dan dibuang ke bumi.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Dalam kutipan dongeng Sangkuriang dan Dayang Sumbi tersebut, salah satu tokohnya adalah seekor binatang yang berupa anjing hitam. Dongeng ini tentu menggambarkan tokoh yang imajinatif karena, tokoh tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata. Tokoh yang imajinatif seperti di atas hanyalah dapat terjadi dalam dunia imajinasi.

Latar
Pada umumya suatu peristiwa terjadi pada waktu dan tempat tertentu serta situasi dan kondisi tertentu pula. Begitu pula peristiwa yang terjadi dalam dongeng, selalu terkait dengan hal tersebut. Tempat, waktu, serta situasi dan kondisi dalam sebuah karya fiksi disebut dengan setting atau latar. Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi baik berupa tempat, waktu , maupun peristiwa (Aminuddin, 2002: 67). Lebih lanjut Aminuddin mengungkapkan bahwa setting dalam prosa fiksi tidak hanya bersifat fisikal tetapi juga bersifat psikologis, artinya setting tersebut mampu menciptakan suasana-suasana tertentu yang dapat menggerakkan emosi atau aspek kejiwaan pembaca. Menurut Santosa (1996: 113), setting adalah segala keterangan, petunjuk, dan pengacuan terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra. Latar banyak memberikan informasi kepada pembaca mengenai keadaan alam, tempat, kapan peristiwa berlangsung dan dalam suasana apa peristiwa terjadi.
Dari tiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa latar adalah keterangan tentang tempat, waktu, situasi dan kondisi berlangsungnya peristiwa dalam sebuah cerita. Umumnya dalam sebuah dongeng, latar bersifat fiktif (rekaan) dan imajinatif karena tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata misalnya di kerajaan langit, kerajaan laut, kerajaan perut bumi, dan sebagainya.

Perhatikan contoh berikut.

Saat Nawang Wulan pulang ia mengetahui Jaka Tarub telah melanggar pesannya. Ia menjadi sangat marah. Keesokan hari Nawang Wulan menanak nasi dengan beras yang banyak. Itu dilakukannya setiap hari. Lama-kelamaan, persediaan padi yang ada di lumbung semakin sedikit. Itu artinya tumpukan padi semakin menipis.
Saat akan mengambil tumpukan padi yang sedikit itu, tiba-tiba di bawah tumpukan padi Nawang Wulan menemukan sebuah selendang. Ia sangat kenal dengan selendang itu. ternyata, itu memang selendang miliknya yang telah hilang.

“Hah selendangku yang hilang. Mengapa ada di sini? Benarkah kakang Jaka yang telah mengambilnya?” tanya Nawang Wulan dalam hati. Nawang Wulan segera mengenakan selendang itu.
Sementara itu, Jaka Tarub sudah sejak tadi mencari-cari istrinya. Ia pergi menuju lumbung. Siapa tahu istrinya berada di sana. namun, betapa terkejutnya Jaka tarub dengan apa yang dilihatnya. Nawang Wulan telah mengenakan selendang bidadarinya.

“Maaf Kakang, aku harus pergi kembali ke kayangan,”ucap Nawang Wulan.
“Nawang Wulan, aku tahu aku salah. Aku telah mencuri selendangmu. Tapi bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega meninggalkannya?” tanya Jaka Tarub sambil memelas.

“Aku tidak menyangka kau telah menipuku sekian lama. Aku memang tidak tega meninggalkan Nawangsih. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku harus kembali ke kayangan karena itulah tempatku, “ucap Nawang Wulan.
“Tapi, anak kita masih sangat membutuhkanmu. Ia masih menyusu. Lalu, apa yang harus kuperbuat tanpamu, Nawang Wulan?” ucap Jaka Tarub.

“Aku akan tetap menjalankan kewajibanku untuk menyusuinya. Aku akan datang setiap malam untuk menyusui. Karenanya buatkanlah dangau (gubuk atau rumah kecil di sawah/ di ladang yang digunakan untuk tempat berteduh ketika menjaga tanaman/padi) untukku. Letakkan Nawangsih di situ. Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah kau mendekati dangau itu selama aku menyusui, “ ucap Nawang Wulan.
“Nawang Wulan, tidak bisakah kau tinggal bersama kami di sini. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Tapi kumohon, kau jangan pergi, “bujuk Jaka Tarub.

Tapi keputusan Nawang Wulan tidak dapat ditawar lagi. Tekadnya untuk kembali ke kayangan sudah bulat. Dengan berurai air mata, Nawang Wulan menciumi Nawangsih yang berada dalam dekapan Jaka Tarub. Setelah itu Nawang Wulan terbang ke kayangan sambil melambaikan tangannya.
(Dikutip dari Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara, 2009)

Latar dalam kutipan dongeng Jaka Tingkir dan Bidadari Cantik adalah berada di alam nyata dan kayangan. Latar yang terjadi di alam nyata terbukti saat Nawang Wulan masih menjadi istri dari Jaka Tarub ia merasa telah ditipu. Nawang Wulan menemukan selendang miliknya diatas tumpukan padi yang tak lain telah disembunyikan oleh Jaka Tarub agar ia tidak dapat kembali ke kayangan. Nawang Wulan kemudian marah dan ia kembali ke kayangan. Nawang Wulan meminta kepada suaminya itu untuk membuatkan sebuah gubuk untuk menyusui anaknya setiap malam.

Latar yang terjadi di kayangan dalam kutipan dongeng Jaka Tingkir dan Bidadari Cantik ini tidak dinyatakan secara eksplisit. Namun, berdasarkan kutipan dongeng di atas sudah mampu mewakili bahwa sesungguhnya seorang bidadari tinggalnya berada di kayangan. Latar yang demikian ini menggambarkan peristiwa yang imajinatif karena latar yang terjadi di kayangan tidak selalu dapat dibuktikan dalam kehidupan nyata dan hanya terjadi dalam dunia imajinasi.

Tema
Menurut Scharbach (dalam Aminuddin, 1987: 91), tema berasal dari bahasa Latin yang berarti “tempat meletakkan sesuatu perangkat”. Dalam rumusannya yang lebih rinci, Aminuddin menyebutkan bahwa tema merupakan ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal total pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Tema dalam cerita merupakan hal yang abstrak atau tersembunyi dan harus ditemukan oleh pembaca. Pengarang tidak semata-mata menyatakan apa yang menjadi inti persoalan atau permasalahan dalam ceritanya, meskipun kadang-kadang terdapat kata-kata atau kalimat kunci dalam bagian cerita yang diciptakannya.

Menurut Aminuddin (1987: 97) makna dan tujuan sebagai hal yang terkait erat dengan tema. Lebih lanjut Aminuddin menjelaskan bahwa pembaca dapat memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang membangun suatu cerita, menyimpulkan makna yang dikandungnya, serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya

Menurut Nurgiyantoro (1994: 66) setiap karya fiksi tentu mengandung dan menawarkan tema, namun isi tema itu sendiri tidak mudah ditunjukkan. Dengan kata lain, menemukan sebuah tema merupakan kegiatan yang tidak mudah dilakukan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tema pada umumnya tidak dilukiskan secara eksplisit. Kehadiran tema adalah implisit dan merasuki keseluruhan cerita. Hal ini yang menyebabkan tidak mudahnya penafsiran sebuah tema (Nurgiyantoro, 1994: 68-69).

Dalam upaya pemahaman tema, pembaca perlu memperhatikan beberapa langkah secara cermat berikut: (1) memahami setting dalam prosa fiksi yang dibaca, (2) memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang dibaca, (3) memahami satuan peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam prosa fiksi yang dibaca, (4) memahami plot atau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca, (5) menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita, (6) menentukan sikap pengarang terhadap pokok-pokok pikiran yang ditampilkannya, (7) mengindentifikasi tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap pengarang terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya, dan (8) menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam satu dua kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan pengarangnya.

Dari beberapa ulasan tentang tema di atas, dapat dimaklumi bahwa upaya pemahaman tentang tema dalam prosa fiksi tidaklah mudah. Unsur lain yang diperoleh pembaca sewaktu berusaha memahami tema seperti telah disinggung dalam delapan langkah tersebut adalah unsur pokok pikiran, pokok persoalan atau subject matter. Lewat pemahaman pokok persoalan itu pada langkah yang lebih lanjut pembaca juga akan juga menemukan nilai-nilai didaktis yang berhubungan dengan masalah manusia dan kemanusiaan serta hidup dan kehidupan. Demikian juga dalam dongeng, pemahaman tema dapat dilakukan dalam upaya untuk menemukan nilai-nilai didaktis yang tersirat dalam keseluruhan unsur-unsurnya.
Baca selengkapnya

Ayat-Ayat Al-Qur'an


Ayat-Ayat tentang Penciptaan Alam
2. Al-Baqoroh
117. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia.

29. Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

6. Al-an’am
1. Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.
79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
101. Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Ayat Ayat tentang Penyakit Hati

38. SHAAD
74. kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

44. Ad-Dukhan
31. dari (azab) Fir'aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.


Al-Isra
4. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali[848] dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

[848]. Yang dimaksud dengan membuat kerusakan dua kali ialah pertama menentang hukum Taurat, membunuh Nabi Syu'ya dan memenjarakan Armia dan yang kedua membunuh Nabi Zakaria dan bermaksud untuk membunuh Nabi Isa a.s. Akibat dari perbuatan itu, Yerusalem dihancurkan (Al Maraghi).

Al-Isra’
83. Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
Baca selengkapnya

Sunday, August 05, 2012

MOS (Masa Orientasi Siswa) yang Fun dengan 5 R 1 W


Alhamdulillah Madrasah Ibtidaiyah Bilingual Al Ikhlas (MIBA) memasuki tahun ke 5. Saat ini MIBA memasuki tahun ajaran 2012/2013... dan siswa-siswi baru pun mulai berdatangan. Untuk menyambut Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di tahun ini terlebih dahulu seluruh siswa wajib mengikuti kegiatan MOS yang berlangsung selama 4 hari, dimulai tanggal 16-19 Juli 2012. 


Adapun kegiatan MOS ini mengacu pada prinsip KBM yang dilaksanakan MIBA yakni 5 R 1 W (Religi, Reading, Research, Reason, Ramah, dan Writing).
  1. Religi, bahwa KBM MIBA diorientasikan pada agama. Kegiatan, suasana, dan tujuan belajar diarahkan pada pencapaian agama. Kegiatan siswa, guru, dan orang tua siswa mulai berangkat ke sekolah hingga siswa pulang sekolah harus agamis. 
  2. Reading, sekolah dikembangkan sebagai lingkungan membaca. Siswa, guru, dan wali murid diajak untuk gemar membaca ada jam, hari, minggu, atau bulan membaca.
  3. Research, sekolah hendaknya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan dan minat meneliti. Siswa dan guru selalu diajak untuk melakukan penelitian. Penelitian yang dilakukan siswa hendaknya sesuai dengan kemampuan dan minat siswa. Siswa hendaknya menjadi suka dan terbiasa meneliti. Penelitian ini dilakukan terutama dikaitkan dengan mata pelajaran.
  4. Reason, di sekolah sudah seharusnya dibelajarkan dan dikembangkan kemampuan bernalar. Siswa diajak untuk bernalar. Ini bisa dilatih dengan cara membelajarkan mereka untuk selalu bertanya. Pertanyaan ini bisa mulai dari pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, mengapa? 
  5. Ramah, suasana sekolah harus ramah. Ada hubungan kekeluargaan antara guru-siswa-wali murid-yayasan. Ada prinsip asah-asih-asuh. Perlu ada gerakan senyum. Ramah ini bisa merujuk pada ramah anak, ramah guru, ramah wali murid, ramah lingkungan, dan ramah kantong. Ramah anak artinya seluruh warga sekolah harus ramah kepada siswa. Suasana sekolah, bentuk bangunan, kurikulum, materi pembelajaran, media dan sumber belajar, dan penilaian pembelajaran hendaknya menjadikan siswa nyaman berada di sekolah. Siswa hendaknya didekatkan pada senang belajar, jauh dari rasa takut dan bosan belajar. Tempat yang paling dirindukan siswa, setelah rumah, hendaknya sekolah. Ramah guru artinya seluruh warga hendaknya menjadikan guru nyaman menjalankan tugasnya. Ramah wali murid artinya seluruh warga sekolah hendaknya menjadikan wali murid merasa menjadi warga sekolah. Ramah lingkungan artinya sekolah dibangun berdasarkan prinsip keindahan, kesehatan, kelestarian, keragaman, kenyamanan, kemungkinan sebagai sumber dan media belajar. Ramah kantong artinya sekolah diusahakan sebagai sekolah yang murah. Perlu dicari bidang usaha yang mampu menopang kebutuhan operasional sekolah.
  6. Writing, Sekolah dikembangkan sebagai lingkungan untuk memupuk kegemaran dan kemampuan menulis siswa, guru, dan wali murid. Ada karya tulisan bersama, ada juga karya tulisan masing-masing siswa, guru, atau wali murid.

Nah, berdasarkan 6 prinsip tersebut maka kegiatan MOS tiap harinya memiliki tema yang berbeda. Tentunya hal ini bertujuan agar paradigma bahwa MOS adalah sesuatu yang membosankan menjadi berbeda bagi siswa-siswi, MOS menjadi sesuatu yang fun (menyenangkan) dan selalu ditunggu-tunggu oleh siswa.

Hari pertama tanggal 16 Juli 2012 adalah babak baru bagi kelas 1 dan beberapa siswa pindahan. Oleh karenanya di hari pertama ini kegiatan MOS MIBA mengambil tema "Hari Perkenalan". Dan kegiatan yang dilakukan pun berkaitan dengan tema tersebut, misal game perkenalan dan dongeng. 



Hari kedua, 17 Juli, tema yang diambil adalah religi, siswa baru tentu saja diajari untuk melakukan shalat Duha bersama kakak kelasnya. Setelah itu dilanjutkan dengan cerita Nabi dan sahabat oleh Bunda dan Yandanya.

Hari ketiga, 18 Juli, tema yang diambil adalah research. Masing-masing kelas melakukan penelitian berbeda-beda. Ada yang meneliti bentuk daun, sayuran, empon-empon, meneliti sifat teman yang berbeda-beda. Dan tentu saja setelah meneliti, masing-masing siswa menghasilkan karya yang berbeda, ada siswa yang menghasilkan karya lewat tulisan penelitiannya, ada karya yang berupa lukisan bentuk daun.






Hari keempat, 19 Juli, tema yang diambil adalah kriya. Kelas 1 dan 2 melukis celengan. Celengan yang sudah dilukis tersebut akan digunakan sebagai media pembelajaran menabung bagi siswa. Beda dengan kegiatan menabung pada umumnya dimana siswa menabung kemudian guru membuat catatannya, di MIBA khusus untuk kelas 1 dan 2 siswa mencatat uang yang dimasukkan celengannya di buku tabungan masing-masing. Hal ini bertujuan selain melatih hidup hemat, siswa  belajar penjumlahan dan pengurangan secara langsung dalam kehidupannya, bukan hanya sekedar teori buku.

Sedangkan kriya untuk kelas 3, 4, 5 adalah belajar menganyam. Hasil anyaman ini kemudian dipasang sebagai hiasan di dinding-dinding kelas mereka.

Seluruh kegiatan berakhir dengan upacara penutupan MOS di keesokan harinya (tanggal 20 Juli 2012)







Baca selengkapnya

Sunday, April 08, 2012

Penerimaan Rapor Evaluasi Tengah Semester 2 Tahun Ajaran 2011/2012 di MIBA

Sabtu, 7 April 2012, Madrasah Ibtidaiyah Bilingual Al Ikhlas (MIBA) mengundang seluruh wali murid untuk Penerimaan Hasil Evaluasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Tengah Semester 2 tahun ajaran 2011-2012. Seperti biasa sebelum penerimaan hasil evaluasi KBM siswa, wali murid dikumpulkan di aula untuk mendapat wawasan tentang cara mendidik anak. Kali ini tema yang diusung adalah "Sebelas Pernyataan Tak Terucap dari Anak", dengan Prof. Wahyudi Siswanto sebagai pemateri. Secara sekilas berikut 11 pernyataan tak terucap dari anak kepada orang tua yang disampaikan oleh Prof. Wahyudi Siswanto:
  1. Cintailah aku sepenuh hati
  2. Aku ingin menjadi diri sendiri, maka hargailah aku
  3. Cobalah mengerti aku dan cara belajarku
  4. Jangan marahi aku di depan orang banyak
  5. Jangan bandingkan aku dengan kakak dan adikku
  6. Bapak dan ibu lupa, aku adalah fotocopymu
  7. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku sebagai anak kecil
  8. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu bila aku salah
  9. Jangan membuat aku bingung, maka tegaslah padaku
  10. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku
  11. Aku adalah "ladang pahala bagimu"


Selama 45 menit pencerahan tentang pendidikan anak disampaikan oleh Prof. Wahyudi, setelah itu seluruh wali murid menuju kelas putra-putrinya masing-masing untuk menerima Rapor Tengah Semester 2.




Baca selengkapnya

Sunday, April 01, 2012

Bule Datang di MIBA ..... What's????

Hello ... My name's Marisa ...
Hellooooooooooooooooooooo... jawaban serempak seluruh siswa MIBA (Madrasah Ibtidaiyah Bilingual Al Ikhlas). Semuanya excited dengan rombongan keluarga Mbak Marisa yang sudah ditunggu-tunggu dari pagi hari. Bagi anak-anak mungkin sudah biasa melihat orang berkulit putih atau istilahnya "bule" baik melihat di televisi atau bertemu langsung di tempat wisata. Namun untuk berkomunikasi secara langsung, moment dengan keluarga Mbak Marisa adalah untuk pertama kalinya. Mbak Marisa adalah salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang berasal dari USA dan kebetulan partner dari salah satu bunda MIBA, bunda Erma. Kebetulan sedang berlibur di Malang bersama keluarganya, akhirnya bunda Erma mengajak  Mbak Marisa sekeluarga untuk berkunjung di  MIBA. 

Kesempatan emas ini tentu saja digunakan oleh MIBA untuk mengenalkan budaya asing kepada siswa secara langsung. Perbedaan RAS, kulit, budaya, bahasa bukanlah sebuah pembeda dan menjadi pemicu terjadinya konflik, perbedaan yang ada menjadi sesuatu yang indah dengan adanya toleransi dan ikatan persahabatan. Kedatangan keluarga Mbak Marisa menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi siswa MIBA untuk semangat belajar bahasa asing dan mengejar impian mereka untuk belajar di luar negeri. Semoga impian mereka terwujud. Insyaallah.

Tidak hanya itu, kedatangan keluarga Mbk Marisa membuat siswa kelas IV dengan dibina bunda Erma termotivasi untuk menghasilkan sebuah buku yang berjudul To Miss Marisa, yang berisi surat pena untuk mbak Marisa. Dan tentu saja begitu buku itu cetak, siswa kelas IV sangat senang sekali. Satu karya lagi berhasil mereka wujudkan.


Foto siswa bersama Marisa's Family

Teman baru .. motivasi baru ... karya baru pun lahir. Semoga di tahun 2012 banyak teman baru yang berkunjung di MIBA. Sebuah sekolah pinggiran yang berusaha mengajarkan siswa untuk terus berani bermimpi meraih impian terutama bagi siswa yang berada di tengah ketidakberdayaan ekonomi yang menghimpit keluarga mereka. 

Syukron jiddan untuk bunda Erma yang baru bergabung di keluarga MIBA, namun sudah memberi sebuah motivasi tersendiri bagi siswa dan MIBA tunggu teman-teman dari Afrika di tahun 2012.

Baca selengkapnya